Thursday, 9 October 2014

Muslim Social Network.


TurnToIslam Muslim Social Network
Muslim Social Network. 
Helping people learn and share Islam.


When a person spends his entire day with no concern but Allah alone, Allah will take care of all his needs and take care of all that is worrying him; He will empty his heart so that it will be filled only with love for Him.”
— Ibn Qayyim Al-Jawziyyah

Sunday, 13 April 2014

Nikmat Lisan untuk Apa Kita Gunakan.



Allah adalah Al-Mu’thi, Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha memberikan berbagai nikmat kepada seluruh makhluk-Nya untuk menegakkan kewajiban dan ketaatan mereka kepada-Nya semata. Itulah salah satu bukti rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah l berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Adapun jenis dan jumlah nikmat-Nya, hanya Allah l yang Maha mengetahui. Allah l berfirman:

“Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya, lahir dan batin.” (Luqman: 20)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An-Nahl: 53)

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (Ibrahim: 34)

Dari sekian banyak kenikmatan yang Allah l limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, termasuk yang paling agung adalah nikmat lisan. Dengan lisannya, seorang hamba akan mampu berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang ada pada dirinya. Allah l berfirman:

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir.” (Al-Balad: 8-9)

Lisan yang kecil ini ibaratnya pedang bermata dua. Jika tidak memberi manfaat kepada pelakunya, maka dia justru akan membinasakan tuannya. Allah l berfirman:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Al-Infithar: 10-11)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali t berkata: “Sungguh, as-salafush shalih rahimahumullah telah sepakat bahwa malaikat yang ada di samping kanan seorang hamba adalah malaikat yang akan mencatat seluruh amal kebaikan. Sedangkan malaikat yang ada di samping kirinya adalah malaikat yang akan mencatat amalan kejelekan.” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1/336)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menerangkan makna ayat tersebut dalam Tafsir-nya: “Amalan kalian pasti akan dihisab. Allah l telah menugaskan sebagian malaikatnya yang mulia untuk mencatat ucapan dan perbuatan kalian. Mereka (para malaikat itu) mengetahui amalan kalian, baik amalan hati maupun anggota badan. Maka, sepantasnya kalian memuliakan dan menghormati mereka (dengan kebaikan dan ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya, pen.).”

Rasulullah n bersabda:

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah l, yang dia tidak ingat atau pikirkan, yang dengannya Allah l akan mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai Allah l yang dia tidak ingat atau pikirkan, maka dengan sebab itu, dia akan masuk ke dalam Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah z)

Sehingga, orang yang bijak adalah orang yang berpikir sebelum berbicara; apakah perkataan yang ingin dia ucapkan akan mendatangkan keridhaan Allah l atau kemurkaan-Nya? Akan mendatangkan keuntungan di akhirat ataukah kerugian?

Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa menjamin apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yakni lisan), dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni kemaluan), niscaya aku menjamin jannah (surga) baginya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’d z)

Rasulullah n juga bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah z)

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Makna hadits ini adalah apabila seorang hamba ingin berbicara, hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Apabila telah nampak jelas baginya bahwa tidak ada kerugian/madharat terhadap dirinya, hendaknya dia mengatakannya. Namun apabila nampak jelas baginya kerugian/madharat atau dia ragu-ragu, maka hendaknya dia diam.” (Syarh Shahih Muslim, 1/222)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Makna hadits tersebut ialah ketika seseorang ingin berbicara hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Jika yakin bahwa ucapannya tidak menimbulkan akibat yang jelek dan tidak menyeretnya pada perkara yang haram atau makruh, hendaknya dia berbicara. Namun apabila perkaranya adalah mubah, yang selamat adalah dia diam, supaya tidak terseret ke dalam perkara yang haram atau makruh.” (Fathul Bari, 13/149)

Perhatikan pula ucapan Al-Imam Ibnul Qayyim t ketika menceritakan bagaimana Iblis la’natullah ‘alaih mengomando bala tentaranya. “Iblis berkata kepada anak buahnya: ‘Berjaga-jagalah kalian pada pos lisan, karena pos tersebut adalah pos yang paling strategis. Doronglah lisannya untuk mengucapkan berbagai perkataan yang akan merugikannya dan tidak akan menguntungkannya. Halangilah hamba itu untuk membiasakan lisannya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti dzikir, istighfar, membaca Al-Qur’an, memberi nasihat, dan berbicara tentang ilmu. Niscaya kalian akan mendapatkan dua hasil besar di pos ini, tidak usah engkau hiraukan hasil manapun yang engkau dapatkan:

1. Dia berbicara dengan kebatilan. Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah saudara dan penolongmu.

2. Dia berdiam diri dari kebenaran. Orang yang tidak berbicara dengan kebenaran adalah saudaramu yang bisu, sebagaimana saudaramu yang pertama tadi, hanya saja dia pandai bicara. Barangkali saudaramu yang bisu ini lebih bermanfaat bagi kalian. Tidakkah kalian dengar ucapan seorang pemberi nasihat1: ‘Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang pandai bicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.’

Maka teruslah kalian berjaga di pos itu. Pos yang dia bisa berbicara dengan kebenaran atau menahan diri dari kebatilan. Hiasilah pembicaraan kebatilan kepadanya, dengan segala cara. Takut-takutilah dia untuk menyampaikan kebenaran, dengan segala cara.

Ketahuilah wahai anak-anakku, pos lisan inilah tempat aku berhasil membinasakan anak keturunan Adam dan menyeret mereka ke dalam Jahannam. Betapa banyak korban yang berhasil aku bunuh, aku tawan, atau aku lukai melalui pos ini.” (Ad-Da’u wad Dawa’, hal. 154-155)

Selanjutnya, Iblis berkata kepada anak buahnya: “Gunakanlah dua senjata yang tidak akan menyebabkan kalian kalah:

1. Lalai dan lengah. Jadikanlah hati mereka berlalu dari mengingat Allah l, lalai terhadap akhirat, dengan segala cara. Kalian tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dalam usaha kalian dibandingkan perkara itu. Karena, tatkala hati lalai dari mengingat Allah l maka kalian akan mampu menguasai dan menyesatkannya.

2. Syahwat. Hiasilah syahwat itu dalam hati mereka. Tampakkanlah indahnya syahwat di pelupuk mata mereka. Lalu seranglah mereka dengan dua senjata itu. Kalian tidak memiliki kesempatan yang lebih berharga untuk membinasakan mereka dibandingkan dua kesempatan itu.” (Ad-Da’u wad Dawa’, hal. 157)

Adapun perangkap-perangkap Iblis –yang menjebak banyak hamba Allah l– tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antaranya:



1. Ghibah

Rasulullah n menjelaskan makna ghibah dalam hadits Abu Hurairah z:


“Tahukah kalian apa ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau n bersabda: “Engkau menceritakan tentang saudaramu perkara yang dia benci.” Beliau ditanya: “Bagaimana kalau perkara yang aku katakan itu memang ada pada dirinya?” Beliau menjawab: “Kalau apa yang engkau katakan itu ada pada dirinya, sungguh engkau telah mengghibahinya. Apabila tidak ada padanya, sungguh engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah n telah mengharamkan harga diri seorang muslim dalam khutbah yang mulia dan di waktu yang mulia (yakni di hari Arafah), di tempat yang mulia pula (di Arafah). Dari Abu Bakrah z, nabi n bersabda:


“Maka sesungguhnya darah kalian haram, harta kalian haram, dan kehormatan kalian pun haram, sebagaimana haramnya (terhormatnya) hari kalian ini, di negeri kalian ini, dalam bulan kalian ini.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sehingga, merendahkan dan menjatuhkan harga diri/kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang benar adalah haram hukumnya. Barangsiapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya, niscaya Allah l akan membongkar aibnya dan mempermalukannya. Dari Ibnu Umar c, dia berkata:


“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum masuk ke dalam hatinya. Jangan kalian menyakiti kaum muslimin. Jangan kalian menjelek-jelekkan mereka dan jangan kalian mencari-cari kekurangan mereka. Karena barangsiapa mencari-cari kekurangan saudaranya yang muslim, niscaya Allah l akan mencari-cari kekurangannya. Barangsiapa yang Allah l cari-cari kekurangannya, niscaya Allah l akan membongkar aibnya dan mempemalukannya, walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ketahuilah, ghibah adalah salah satu dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya mendapat azab kubur apabila Allah l tidak mengampuninya. Dari Anas bin Malik z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:


Tatkala aku dimi’rajkan (dinaikkan ke langit) aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku tajam dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. maka aku bertanya: “Siapa mereka ini, wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang suka makan daging manusia (menggunjing/ghibah) dan menjatuhkan kehormatan mereka.” (HR. Abu Dawud, dan disebutkan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Ghibah itu haram hukumnya berdasarkan ijma’. Tidak ada pengecualian selain terhadap orang-orang yang jelas kemaslahatannya, seperti dalam al-jarh wat ta’dil (mencela/ memuji para perawi hadits), dalam nasihat sebagaimana nasihat Rasulullah n kepada Fathimah bintu Qais x.”

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ketahuilah bawa ghibah itu dibolehkan untuk tujuan syar’i, yang mana tidak mungkin tujuan tersebut tercapai kecuali dengan ghibah itu. Hal ini ada pada enam perkara.” (Riyadhush Shalihin)

Keenam hal tersebut terkumpul dalam ucapan seorang penyair:


Ghibah itu tidak tercela pada enam perkara

Orang yang dizalimi, yang mengenalkan, dan yang memperingatkan

Orang yang menampakkan kefasikan, peminta fatwa

Orang yang minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran


Faedah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Ketahuilah, ghibah itu akan bertambah kejelekannya dan dosanya sesuai dengan siapa yang disakiti dengan ghibah tersebut. Ghibah terhadap orang biasa tidak seperti ghibah terhadap orang yang berilmu. Tidak pula seperti ghibah terhadap pemimpin negara, pejabat, menteri, dan sejenisnya. Karena ghibah terhadap pejabat baik pejabat rendah maupun pejabat tinggi lebih besar dosanya daripada ghibah terhadap orang yang tidak memiliki jabatan kepemimpinan atau kedudukan. Hal itu disebabkan bila engkau ghibah terhadap orang biasa, engkau hanyalah berbuat jelek terhadap pribadinya. Namun bila engkau ghibah terhadap orang yang memiliki jabatan atau kedudukan, sungguh engkau telah berbuat jelek terhadap pribadi dan kedudukannya yang terkait dengan kepentingan kaum muslimin. Contohnya, apabila engkau berbuat ghibah terhadap salah seorang ulama, perbuatan ini berarti permusuhan dan kebencian terhadap pribadinya. Engkau juga telah berbuat kejelekan atau kejahatan yang besar terhadap ilmu syariat yang dibawanya. Seorang yang berilmu adalah pengemban syariat. Apabila engkau menggunjingnya maka akan jatuh kewibawaannya dalam pandangan umat. Apabila telah jatuh wibawanya, umat tidak akan mendengarkan ucapannya dan tidak mau merujuk kepadanya dalam urusan agama mereka. Akibatnya, ilmu yang dimiliki orang alim tersebut diragukan kebenarannya karena engkau menggunjingnya. Ini adalah kejahatan yang besar terhadap syariat.

Demikian juga para pemimpin/pejabat. Apabila engkau melakukan ghibah terhadap seorang pejabat, raja, presiden, atau yang semisalnya, dampak jeleknya bukan hanya menimpa pribadinya. Bahkan ghibah itu akan menjatuhkan pribadinya sekaligus merusak kewibawaan serta kedudukannya. Ini berarti engkau telah menyusupkan kebencian dan kedengkian ke dalam hati rakyat terhadap penguasanya. Apabila engkau berhasil menanamkan kebencian dan kedengkian di hati mereka terhadap penguasanya, sungguh engkau telah melakukan kejahatan yang besar terhadap mereka. Hal ini juga merupakan sebab munculnya berbagai kekacauan, perselisihan, dan perpecahan dalam kehidupan (masyarakat). Bila hari ini ghibah telah berhasil menyebarkan berbagai macam ucapan, boleh jadi besok hari akan menyebarkan tembakan-tembakan. Karena apabila hati telah benci dan dengki terhadap penguasanya, dia tidak akan mau tunduk dan patuh terhadap perintahnya. Apabila dia diperintahkan untuk melakukan suatu kebaikan, dia akan melihat sebaliknya. (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/46-47)



Cara Taubat dari Ghibah

Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib (hal. 131) menyebutkan sebuah hadits dari Nabi n bahwa kaffarah ghibah (penghapus dosanya) adalah dengan memohon ampunan kepada Allah l bagi orang yang digunjing, dengan mengucapkan:


“Ya Allah, ampunilah kami dan dia.”

Al-Baihaqi t menyebutkan hadits tersebut dalam Ad-Da’watul Kabir, dan mengatakan bahwa di dalam sanadnya ada kelemahan. Dalam masalah ini, ada dua pendapat di kalangan ulama, yang keduanya adalah riwayat dari Al-Imam Ahmad t: Apakah cukup untuk bertaubat dari ghibah itu dengan memohon ampunan bagi orang yang dighibahi? Ataukah harus disertai pemberitahuan kepada orang itu dan meminta untuk dimaafkan?

Pendapat yang benar, taubat dari ghibah tidak membutuhkan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi. Bahkan cukup dengan memohon ampunan baginya dan menyebut kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu dia mengghibahinya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dan selainnya.

Adapun sebagian ulama yang mengharuskan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi sebagai bentuk taubatnya, mereka menganggap ghibah seperti hak-hak harta yang dizalimi. Padahal jelas perbedaannya. Dalam hak-hak yang terkait dengan harta, dengan dikembalikan hartanya atau yang setara dengannya, maka orang yang dizalimi akan mendapatkan manfaat darinya. Dia bisa mengambilnya atau menyedekahkannya. Yang seperti ini tidak mungkin terjadi pada ghibah. Yang akan terjadi pada orang yang dighibahi ketika dia diberitahu tentangnya, justru berlawanan dengan apa yang dimaksud Rasulullah n. Hal tersebut justru akan menyakiti dan menyalakan kemarahannya. Boleh jadi dia akan membangkitkan permusuhan yang tidak akan bisa dipadamkan. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya yang seperti ini tentu tidak akan diperbolehkan oleh Rasulullah n, apalagi memerintahkan dan mewajibkannya.



2. Namimah (adu domba)

Namimah adalah menukil (memindahkan) ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau persaudaraan di antara keduanya.

Allah l dan Rasul-Nya n sungguh telah mencela orang yang berbuat namimah dan melarang kita mendengarkan ucapannya. Allah l berfirman:

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (Al-Qalam: 10-12)

Rasulullah n bersabda:

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah).” (HR. Al-Bukhari dari Hudzaifah z)

Dalam sebuah riwayat dalam Shahih Muslim:

“Tidak akan masuk surga, ahli namimah.”

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Allah l berfirman ﯣ ﯤ , maknanya adalah orang yang berjalan di antara manusia untuk mengadu domba di antara mereka, dengan cara menukil ucapan dengan tujuan merusak hubungan dan persaudaraan di antara mereka. Ini adalah perbuatan yang membinasakan.”

Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Dalil-dalil yang mengandung ancaman seorang muslim tidak akan masuk surga bila melakukan dosa besar (seperti hadits ini, pen.) dipahami bahwa di dalamnya ada sesuatu yang mahdzuf (dibuang). Maksudnya adalah apabila Allah l ingin membalasnya, atau maknanya dia tidak akan masuk surga secara langsung, di mana dia akan diazab sesuai kadar dosanya (apabila Allah l berkehendak, pen.), namun akhirnya ia masuk surga. Sedangkan bila menghalalkannya, maka dia telah kafir karena telah mendustakan nash-nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sama saja apakah dia melakukan perbuatan itu ataupun tidak. (Nashihati lin Nisa’, hal. 39)

Namimah adalah dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya diazab dalam kuburnya, apabila Allah l tidak mengampuninya. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas c yang masyhur. Disamping itu, namimah adalah perbuatan yang sangat tercela lagi berbahaya, yang akan merusak persahabatan dan persaudaraan. Bahkan namimah bisa merusak kecintaan antara sepasang suami istri, bapak dengan anaknya, atau seseorang dengan saudaranya, serta bisa merusak persaudaraan di antara kaum muslimin. Bahkan peperangan bisa terjadi karena namimah. Oleh karena itulah, Allah l dan Rasul-Nya n mengancam pelakunya tidak akan masuk surga.

Sebagian ulama, seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menggolongkan namimah ke dalam jenis sihir. Karena namimah bisa merusak persaudaraan dan kecintaan antara dua pihak, sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan sihir. Bahkan sebagian ulama yang lain mengatakan: “Sungguh ahli namimah itu bisa merusak dalam sekejap sebagaimana tukang sihir merusak dalam waktu satu bulan.”

Ummu Abdillah berkata: “Ketahuilah, orang yang melakukan namimah untuk kepentinganmu, maka dia akan melakukan namimah untuk membinasakanmu juga. Oleh karena itu, nasihatilah orang yang berbuat demikian dengan lemah lembut dan pengarahan yang baik berulang kali. Apabila dia tidak mau meninggalkannya maka peringatkanlah saudara-saudaramu darinya. Jauhilah dia, karena Allah l berfirman:

“Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengalihkan pada pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)



Faedah

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah berkata: “Jauhilah faktor-faktor yang akan menumbuhkan kebencian, permusuhan, perselisihan, dan perpecahan. Jauhilah perkara-perkara ini. Karena perkara ini telah tersebar pada masa ini melalui usaha orang-orang yang Allah l mengetahui keadaan dan tujuan mereka. Benar-benar tersebar dan meluas. Perkara-perkara ini telah mencabik-cabik para pemuda di negeri ini (Arab Saudi), baik di universitas Islam maupun tempat lainnya. Bahkan di seluruh dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena yang terjun di medan dakwah bukanlah orang-orang yang ahli, baik dari sisi ilmu maupun pemahamannya. Boleh jadi, musuh-musuh dakwah ini telah menyusupkan orang-orang yang akan mengacaukan dan memecah-belah di tengah-tengah salafiyyin. Ini bukanlah perkara yang mustahil, bahkan betul-betul telah terjadi. Maka bersemangatlah kalian untuk menjaga persaudaraan dan persatuan.” (Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah, hal. 39-40)



3. Kadzib (kedustaan)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Kadzib maknanya adalah seseorang memberitakan sesuatu yang menyelisihi kenyataan atau kebenaran. Ketahuilah bahwasanya kedustaan itu bermacam-macam.

a. Dusta atas nama Allah l dan Rasul-Nya n.

Ini adalah kedustaan yang paling besar (dosa dan bahayanya). Karena Allah l berfirman:

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?” (Al-An’am: 21)

Hal ini terbagi menjadi dua bagian:

- Seseorang menyatakan bahwa Allah l mengatakan demikian atau Rasulullah n mengatakan demikian, padahal Allah l atau Rasul-Nya n tidaklah mengatakan demikian itu.

- Dia menafsirkan Kalamullah atau Sunnah Rasul-Nya dengan tafsiran yang tidak seperti yang dimaukan Allah l atau Rasul-Nya n. Dia berarti telah membuat kedustaan atas nama Allah l atau Rasul-Nya. Seperti orang yang dengan sengaja menafsirkan ayat atau hadits dengan tafsiran tertentu yang sesuai dengan hawa nafsunya, atau demi mendapatkan keuntungan duniawi. Dan betapa banyak orang yang terjatuh dalam perkara ini.

b. Kedustaan yang terjadi di kalangan umat

Di antara bentuknya:

- Seseorang menampakkan diri sebagai orang yang baik, berilmu, bertakwa, dan beriman, padahal hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya dia adalah orang yang jahil, zalim, dan kufur. Hal ini adalah kemunafikan, sebagaimana Allah l sebutkan tentang perbuatan orang-orang munafik:

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 8)

- Menisbatkan suatu ucapan, perbuatan atau pendapat, kepada seseorang, padahal orang tersebut tidak menyatakan atau melakukan hal tersebut.

- Menceritakan suatu perkara yang lucu agar orang-orang tertawa, padahal dia berdusta. Dari Mu’awiyah bin Haidah z, dia berkata: Aku mendengar Nabi n bersabda:


“Celaka orang yang menceritakan suatu perkara (yang dusta) untuk membuat suatu kaum tertawa dengannya. Celaka dia, kemudian celaka dia.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)



4. Qiila wa qala (katanya dan katanya)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr t berkata: “Maknanya, berbicara dengan ucapan-ucapan yang tidak ada faedahnya. Kebanyakannya ghibah, keributan, dan dusta. Barangsiapa yang banyak melakukannya pasti dia tidak akan selamat dari kebatilan, ghibah, dan kedustaan. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid, 21/289)

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Maknanya adalah dia membicarakan setiap berita yang dia dengar. Dia menyatakan: ‘Telah dikatakan demikian’ dan ‘Fulan mengatakan demikian’, berupa perkara-perkara yang tidak dia ketahui kebenarannya dan tidak pula ia meyakininya.” (Riyadhush Shalihin)

Oleh karena itulah, Rasulullah n bersabda:


“Sesungguhnya Allah l meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Dia meridhai bagi kalian agar kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan agar kalian tidak berpecah-belah. Dan Dia membenci bagi kalian qiila wa qala, banyak bertanya (keras kepala), dan membuang-buang harta (tanpa ada faedahnya).” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Barangsiapa yang tidak mau mengendalikan lisannya (dengan kebenaran), niscaya dia akan menggunakan lisannya pada perkara-perkara yang jelek. Lisan ini akan menyeretnya pada kebinasaan. Kalau sebuah kalimat saja terkadang bisa mencelakakan pemiliknya, terlebih lagi bahaya dan dosa yang ditimbulkan oleh lisan yang tidak terbatas jumlah dan macamnya. Oleh karena itulah Rasulullah n bersabda:


“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah kalimat yang dia belum mendapatkan kejelasan padanya, maka dia tergelincir dengannya ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah zdan ini adalah lafadz Al-Imam Muslim)

Sedangkan anggota badan yang lainnya tunduk dan takut terhadap lisan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ahmad, Ath-Thayalisi, dan yang lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:


“Apabila anak Adam masuk waktu pagi hari, sesungguhnya seluruh anggota tubuhnya mencela lisan. Mereka mengatakan: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah! Karena kami tergantung denganmu. Apabila engkau lurus, niscaya kami pun akan lurus. Apabila engkau bengkok (menyimpang) maka kami pun akan menyimpang’.” (Tahdzirul Basyar min Ushul Asy-Syar, hal. 112)

Oleh karena itulah, hendaknya kita bertakwa kepada Allah l dengan lisan kita, sebagaimana perintah-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang lurus, niscaya Allah akan memperbagus amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia memperoleh kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Hanya dengan takwa, Allah l akan memperbaiki amalan kita dan mengampuni dosa kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

`(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abbas Muhammad Ihsan). 

asysyariah.com/nikmat-lisan-untuk-apa-kita-gunakan/

Sunday, 6 April 2014

Meninggalkan Shalat Karena Malas




Jika saya tidak shalat karena malas saja, apakah saya dianggap kafir atau muslim maksiat?

Alhamdulillah

Imam Ahmad berkata bahwa kufurnya orang yang meninggalkan shalat adalah pendapat yang kuat. Dalil yang menunjukkan hal tersebut ditunjukkan oleh Al-Quran dan Sunah Rasul-Nya seta perkataan para salaf dan pandangan yang benar (Asy-Syarhul Mumti Ala Zaadil Mustaqni, 2/26)

Orang yang memperhatikan nash-nash dalam Al-Quran dan Sunah, akan mendapatkan bahwa dalam keduanya terdapat dalil-dalil yang menunjukkan kufurnya orang yang meninggalkan shalat sebagai kufur akbar (besar) yang menyebabkannya keluar dari agama.

Di antara dalilnya adalah:

Firman Allah Ta'ala,

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” SQ. At-Taubah: 11

Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah telah tiga syarat yang menjadi batasan untuk membedakan antara kita dan kaum musyrikin. Mereka bertaubat dari syirik, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka taubat dari syirik dan tidak menegakkan shalat serta tidak menunaikan zakat, maka mereka bukan saudara kita. Jika mereka menunaikan shalat dan tidak menunaikan zakat, maka mereka bukan saudara kita. Persaudaraan dalam agama tidak dianggap hilang, kecuali jika seseorang keluar dari agamanya. Dia tidak hilang dengan kefasikan atau kekufuran yang bukan kekufuran (kufur kecil).

Allah Ta'ala berfirman,

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” SQ. Mrayam: 59-60.

Pemahamannya adalah bahwa Allah Ta'ala berkata terhadap orang yang melalaikan shalatnya dan mengikuti hawa nafsunya, "Kecuali mereka yang bertaubat dan beriman." Menunjukkan bahwa mereka saat melalaikan shalatnya dan mengikuti syahwatnya, bukanlah orang-orang mukmin.

Adapun petunjuk sunah tentang kufurnya orang yang meninggalkan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,


"Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim, bab Al-Iman, dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam)

Dari Buraidah bin Hushaib radhiallahu anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya, maka dia telah kafir." (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Yang dimaksud kufur di sini adalah kufur yang dapat mengeluarkannya dari agama, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas antara orang beriman dengan orang kafir. Sebagaimana diketahui bahwa agama orang kafir berbeda dengan agama Islam, maka siapa yang tidak menunaikan janjinya, maka dia kafir.

Juga terdapat hadits Auf bin Malik radhiallahu anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata,


"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, yang shalat bersama kalian dan kalian shalat bersamanya. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka benci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian." Ada yang bertanya, "Ya Rasulullah, apakah boleh kami singkirkan mereka dengan pedang?" Beliau bersabda, "Tidak, selama mereka menunaikan shalat."

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang menggulingkan pemimpin dan memerangi mereka dengan pedang, jika mereka tidak melakukan shalat dan tidaklah para pemimpin boleh digulingkan kecuali jika mereka telah nyata-nyata melakukan kekufuran yang nyata yang kita miliki dalilnya dari Allah Ta'ala. Berdasarkan ucapan Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu,


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memanggil kami, maka kami berbaiat kepadanya. Di antara baiat yang beliu ambil dari kami adalah kami berbai'at untuk mendengar dan taat, baik saat semangat atau lesu, sulit atau lapang dan mengalahkan kepentingan kami serta tidak menggulingkan pemerintahan dari pemiliknya. Beliau berkata, 'Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas telah kalian dapat buktinya dari Allah Ta'ala." (Muttafaq alaih)

Berdasarkan hal ini, maka sikap mereka yang meninggalkan shalat sehingga menjadi alasan dibolehkannya menyingkirkan pemimpin dan memerangi mereka dengan pedang, merupakan kekufuran nyata yang telah didapatkan bukti-buktinya dari Allah…

Jika ada yang mengatakan, "Tidak bolehkan memahami nash-nash yang menunjukkan kufurnya orang yang meninggalkan shalat dengan pemahaman bahwa dia meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya?"

Kami katakan, "Tidak boleh, karena pada hal tersebut terdapat dua larangan;

Larangan Pertama: Menggugurkan status yang telah ditetapkan syariat dan dengan itu sebuah hukum ditetapkan. Karena syariat telah mengaitkan ketetapan hukum kufur dengan meninggalkan shalat tanpa menentangnya dan menjadikan syarat ukhuwah/persaudaraan dalam agama dengan menegakkan shalat tanpa menyebutkan keharusan mengakui kewajibannya. Allah tidak mengatakan, "Jika mereka bertaubat dan mengakui kewajiban shalat." Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan, "Batas antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah menentang wajibnya shalat." Atau "Janji antara kita dengan mereka adalah mengakui kewajiban shalat. Siapa yang mengingkari kewajibannya, maka dia telah kafir." 

Seandainya ini yang dimaksud Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, niscaya penjelasannya akan dirubah dari penjelasan yang sekarang terdapat dalam Al-Quran. Allah Ta'ala berfirman,


 “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” SQ. An-Nahl: 89

Allah juga berfirman kepada Nabi-Nya,


“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,” SQ. An-Nahl: 44

Larangan kedua: Menetapkan sifat yang tidak ditetapkan oleh syariat sebagai alasan hukum. Karena penolakan terhadap kewajiban shalat lima waktu menuntutnya untuk mengkufuri orang yang tidak mendapatkan uzur karena kebodohan di dalamnya, baik dia shalat atau meninggalkannya. Seandainya seseorang shalat lima waktu dan menunaikan semua syarat-syarat dan rukun-rukunya, kewajiban dan sunahnya, akan tetapi dia menentangnya tanpa uzur, maka dia kafir padahal dia tidak meninggalkannya. Maka dengan demikian menjadi jelas, bahwa memahami nash-nash tersebut kepada orang yang meninggalkan shalat karena penentangannya terhadap kewajibannya, adalah tidak benar. Yang benar adalah bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir yang mengeluarkannya dari agama. Sebagaimana jelas-jelas telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam sunannya dari Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwasiat kepada kami;

"Jangan kalian menyekutukan Allah sedikitpun, jangan tinggalkan shalat dengan sengaja. Siapa yang meninggalkannya dengan sengaja, sungguh dia telah keluar dari agama."

Demikian pula, jika kita pahami nash-nash tersebut dengan makna menentang kewajibannya, maka tidak ada gunanya pengkhususan shalat dalam nash-nash tersebut. Karena hukumnya akan berlaku umum terhadap zakat, puasa, haji. Siapa yang meninggalkan karena penentangan maka itu adalah kufur, jika dia bukan orang yang memiliki uzur karena kebodohannya.

Di samping, kufurnya orang yang meinggalkan shalat merupakan konsekwensi dalil yang bersifat tekstual dan menjadi konsekwensi dalil logika yang bersifat teoritis. Bagaimana ada pada seseorang keimanan, sementara dia meninggalkan shalat yang merupakan tiang agama. Sedangkan pada anjuran melaksanakannya akan menuntut seorang mukmin berakal untuk melakukannya dan menyegerakannya, sementara ancaman karena meninggalkannya menuntut seorang mukmin berakal untuk takut meninggalkannya dan menyia-nyiakannya? Meninggalkan shalat dengan adanya semua faktor-faktor teresbut tidak menyisakan keimanan jika dia tinggalkan.

Jika ada orang yang berkata, "Tidakkah bisa dipahami bahwa kufur yang dimaksud bagi orang yang meninggalkan shalat adalah 'kufur nikmat' bukan kufur dalam agama dan bahwa yang dimaksud kufur di sini adalah kufur yang bukan kufur besar (kufur ashgar/kecil), seperti sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam,


"Ada dua perkara pada seseorang, yang pada keduanya terdapat kekufuran; Mengingkari nasab dan niyahah (meraung-raung) atas mayat."

Juga sabdanya,

"Mencaci muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran."

Dan hadits-hadits yang semacamnya.

Kami katakan bahwa pemahaman demikian tidak sah, berdasarkan beberapa alasan;

Pertama: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas yang jelas antara kafir dan iman, antara kaum mukminin dan kafir, dia membedakan antara yang dibatasi dan mengeluarkannya dari selainnya. Kedua hal yang dibatasi itu adalah berbeda, satu sama lain tidak dapat saling mengisi.

Kedua: Shalat merupakan rukun Islam. Penetapan status kafir bagi orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa dia adalah kufur yang mengeluarkan seseorang dari Islam, karena dia telah meruntuhkan salah satu rukun Islam, berbeda dengan status kufur terhadap orang yang melakukan salah satu perbuatan yang perbuatan kufur lainnya.

Ketiga:  Terdapat nash-nash lainnya yang menunjukkan kufurnya orang yang meninggalkan shalat dengan kekufuran yang mengeluarkannya dari agama. Maka kekufuran disini hendaknya dipahami demikian, agar nash-nash tersebut sesuai dan cocok.

Keempat: Redaksi 'kufur' berbeda. Dalam bab meninggalkan shalat redaksinya adalah,

"Antara seseorang dan kesyirikan dan kekufuran."

Dalam redaksi ini kufur disebutkan dengan menggunakan  "ال" (الكفر), sehingga menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kufur adalah hakikat kekufuran. Berbeda jika redaksinya adalah: كُفْر atau منكرا atau kalimat كَفَر dengan menggunakan kata kerja. Maka yang dimaksud adalah bahwa dia bagian dari kekufuran, atau bahwa dia kufur pada perbuatan tersebut, maka perbuatan tersebut bukanlah kufur mutlak yang mengeluarkannya dari agama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dalam kitabnya "Iqtidha Shirathal Mustaqim" hal. 70 berkata, cetakan As-Sunah Al-Muhamadiyah tentang sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam; "Dua perbuatan yang pada keduanya terdapat kufur." Dia berkata, 'Yang dimaksud bahwa pada keduanya adalah kufur, maksudnya adalah kedua sifat tersebut merupakan kufur yang terdapat pada seseorang. Kedua sifat itu merupakan kekufuran, karena dia termasuk perbuatan kufur. Keduanya ada pada seseorang, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan salah satu cabang kekufuran, menjadi kufur mutlak sampai terbukti dia melakukan yang sesuatu yang menyebabkannya kufur hakiki. Sebagaimana seseorang melakukan salah satu cabang iman, dia menjadi mukmin hingga dia melakukan pokok dan hakikat keimanan. Berbeda antara kufur yang mendapatkan tambahan "ال"   sebagaimana terdapat dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,"Tidak ada batas antara seorang hamba dengan kekufuran dan kesyirikan selain meninggalkan shalat" dengan orang yang kufur yang mengingkari ketetapan."

Jika telah jelas, bahwa orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur adalah kafir dengan kekufuran yang menyebabkannya keluar dari agama berdasarkan dalil-dalil ini, maka pendapat yang benar adalah pendapat Imam Ahmad dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafii, sebagaiman disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir terhadap firman Allah Ta'ala, "

““Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya.” SQ. Maryam: 59.

Sedangkan Ibnu Qayim menyebutkan dalam Kitab Ash-Shalat, bahwa ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafii dan bahwa Ath-Thahawi menukilnya dari Imam Syafii langsung.

Pendapat inilah yang dipakai oleh mayoritas shahabat, bahkan ada lebih satu orang mereka yang mengatakan telah terjadi ijmak dalam masalah ini. Abdullah bin Syaqiq berkata, bahwa dahulu para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menganggap bahwa tidak sesuatupun yang apabila ditinggalkan menyebabkan kekufuran selain shalat. (HR. Tirmizi dan Hakim, dia menshahihkan berdasarkan syarat keduanya).

Ishaq bin Rahawaih, tokoh ulama terkenal, berkata bahwa terdapat riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Demikian pula halnya dengan pendapat para ulama dari sejak masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, hingga masa sekarang ini, bahwa orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur, hingga keluar waktu dengan sengaja, maka dia kafir.

Ibnu Hazam menyebutkan bahwa pendapat ini diriwayatkan dari Umar dan Abdurrahman bin Auf dan Muaz bin Jabal serta Abu Hurairah dan selainnya dari kalangan para shahabat, dia berkata bahwa tidak kami ketahui dari para shahabat yang menentangnya.

Hal ini juga dikutip oleh Al-Munziri dalam Kitab At-Targhib wa At-Tarhib, dan dia menambahkan para shahabat (yang berpendapat demikian), yaitu; Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Darda radhiallahu anhum.

Lalu dia berkata, 'Sedangkan dari kalangan selain shahabat; Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, Abdullah bin Mubarak, An-Nakhai, Hakam bin Utaibah, Ayyub As-Sikhtiani, Abu Daud Ath-Thayalisi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb dan selainnya.

Wallahua'lam.
Referensi: Risalah Fi Hukmi Tarikisshalah (Risalah Hukum Orang Yang Meninggalkan Shalat), Syekh Muhamad bin Shaleh Al-Utsaimin

Wednesday, 26 March 2014

Hukum Wanita Keluar Rumah Tanpa Izin Suami, dan Haji Tanpa Mahram.

Saya ingin bertanya, sampai batasan manakah kewajiban suami kepada istrinya?, pertanyaan ini didasari karena saya mempunyai masalah yang besar dengan suami saya disebabkan muamalah suami saya yang tidak baik kepada ibu saya pada waktu ia mengunjungi kami –terjadi konflik antara ibu saya dan keluarga suami-. 

AlHasil suami saya ‘mengusir’ ibu saya, dan saya terpaksa pergi mengikuti ibu saya, dan menolak keinginan suami untuk tetap tinggal bersamanya –sebelumnya saya dan suami tinggal di kota lain, sekarang saya dan ibu pulang ke kota kami sendiri- , meskipun sebenarnya sikap suami baik-baik saja kepada saya, tapi saya marah dan tidak terima dengan perlakuannya terhadap ibu saya. 

Sebenarnya suami sudah minta maaf kepada ibu tapi ia belum bisa memaafkan. Apakah perbuatan saya ini sudah benar, atau saya termasuk istri yang tidak taat pada suami sebagaiman yang Allah –subhanahu wa ta’ala- perintahkan?


Alhamdulillah

Pertama:


Hendaknya seorang suami menyambung tali silaturrahim dengan keluarga istrinya, berbuat baik kepada mereka, ini bagian cara bergaul yang baik kepada istri. Perbuatan seperti ini akan menjadikan seorang istri bahagia, dan menghormati dan memuliakan suaminya, dan akan menambah cinta dan sayang di antara keduanya.

Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut”. (QS. An Nisa’: 19)

Ibnu Katsir berkata:

“Yaitu; bangunlah komunikasi yang baik dengan mereka (para istri), perbaikilah perbuatan dan penampilan kalian sesuai kemampuan kalian, sebagaimana yang kalian harapkan dari istri kalian. Maka berbuatkah sebagaimana yang istri anda perbuat. Sebagaimana firman Allah –ta’ala-:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf”. (QS. Al Baqarah: 228)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan saya sebaik-baik kalian kepada keluarga saya”. (dishahihkan oleh al Baani dalam “Silsilah Shahihah” 285)

(Tafsir Ibnu Katsir: 1/477)

Kedua:

Adapun pengusiran suami anda terhadap ibu anda, ia sudah minta maaf. Dan selayaknya bagi seseorang yang dimintai maaf oleh saudaranya, ia memaafkannya.

Dan hendaklah anda ketahui, bahwa seorang wanita yang sudah menikah, taat kepada suami harus didahulukan dari pada taat kepada bapak dan ibunya. Seorang suami seharusnya tidak mendahulukan seorang pun atas ibunya dalam hal berbakti, dan seorang istri tidak selayaknya mendahulukan seorang pun atas suaminya dalam hal ketaatan; hal ini karena besarnya hak suami terhadap istri. Dan saking besarnya hak suami terhadap istri, hampir saja syari’ah ini menyuruh seorang istri bersujud kepada suaminya, hanya saja tidak dibolehkan bagi seseorang bersujud kepada sesame manusia.

Suami tidak boleh melarang keluarga istrinya untuk mengunjungi anak mereka; kecuali jika dihawatirkan akan merusak dan mempengaruhinya untuk melakukan nusyuz (tidak taat pada suami), maka suami pada saat itu boleh melarangnya datang.

Ketiga:

Anda telah melakukan kesalahan dua kali, dan perbuatan anda bertentangan dengan ketentuan agama.

Kesalahan pertama     : anda keluar dari rumah tanpa izin suami.

Kesalahan kedua         : anda bepergian tidak dengan mahram.

Adapun keluar rumah tanpa izin suami termasuk yang diharamkan, bahkan Allah –ta’ala- melarang wanita yang dicerai suaminya dengan talak raj’i (talak yang masih bisa rujuk) agar tidak keluar rumahnya, bagaimana jika seorang istri yang dicerai saja belum. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman:

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri”. (QS. Ath Thalaq: 1)

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Zaid bin Tsabit berkata: “Suami adalah tuan dalam al Qur’an, lalu beliau membaca ayat: “… dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu”. (QS. Yusuf: 25)

Umar bin Khattab berkata: “Menikah itu perbudakan, maka hendaklah setiap orang melihat kepada siapa menitipkan anak perempuannya”.

Dan diriwayatkan oelh Tirmidzi dan yang lainnya, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Berilah nasehat kepada para istri itu dengan baik, karena mereka adalah tawanan kalian”.

Jadi, seorang wanita dihadapan suaminya serupa dengan budak atau tawanan, ia tidak boleh keluar rumah kecuali atas izin suaminya, baik disuruh bapaknya maupun ibunya, atau yang lainnya. Pendapat ini disepakati para Imam. (Fatawa Kubro: 3/148)

Ibnu Muflih al hambali berkata:

“Diharamkan bagi seorang wanita keluar rumah suaminya tanpa seizinnya, kecuali karena darurat atau kewajiban syari’at”. (Adab Syar’iyyah: 3/375)

Sedangkan bepergiannya seorang wanita tanpa mahram, hal ini hukumnya haram, berdasarkan beberapa hadits shahih Rasulullah yang berkaitan dengan masalah ini.

Imam Nawawi berkata: “Kesimpulannya, pada setiap yang dinamakan safar, maka seorang wanita dilarang keluar kecuali dengan suami atau mahramnya, baik selama tiga hari, dua hari, satu hari, satu mil atau semacamnya, berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

“Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali bersam mahram”.

Hadits di atas menyangkut semua bentuk safar. Wallahu a’lam. (Syarh Muslim: 9/103, dengan sedikit perubahan)


Wallahu a’lam .
Soal jawab tentang Islam
islamqa

Sunday, 16 March 2014

Kekeliruan Yang Terjadi Saat Berziarah Ke Masjdi Nabawi

Apa kekeliruan yang terjadi saat berziarah ke Masjid Nabawi?


Alhamdulillah

Kekeliruan yang dilakukan oleh sebagian jamaah haji saat berziarah ke Masjid Nabawi, ada beberapa perkara, di antaranya;

Pertama:

Sebagian jamaah haji berkeyakinan bahwa berziarah ke Masjid Nabawi memiliki kaitan dengan ibadah haji dan bahwa ibadah haji tidak boleh dilakukan tanpa berziarah ke sana, bahkan sebagian orang bodoh mungkin menganggap bahwa berziarah ke Masjid Nabawi lebih ditekankan dari ibadah haji itu sendiri! Ini adalah keyakinan batil. Tidak ada kaitan antara menunaikan haji dengan berziarah ke Masjdi Nabawi. 

Menunaikan ibadah haji dapat terlaksana sempurna tanpa berziarah ke Masjid Nabawi sebagaimana berziarah ke Masjid Nabawi dapat terlaksana tanpa haji. Akan tetapi, orang-orang terbiasa untuk menjadikan masalah berziarah ke Masjid Nabawi dalam satu paket perjalanan bersama ibadah haji, karena kalau mengulang safar lagi akan berat bagi mereka. 

Demikian pula, berziarah tidak lebih ditekankan dari haji. Karena ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam dan prinsip-prinsipnya yang utama, sedangkan berziarah tidak sampai seperti itu tingkatannya. Tidak kami ketahui ada ulama yang menyatakan wajib berziarah ke Masjid Nabawi atau ke kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun riwayat yang konon berasal dari Nabi shallalalhu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda

“Siapa yang berhaji tapi tidak berziarah kepadaku, maka sungguh dia telah berlaku kasar kepadaku.”

Ini adalah hadits dusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang bertentangan dengan perkara yang sudah diketahui dalam agama. Seandainya hadits ini shahih, maka berziarah ke kuburan beliau merupakan kewajiban yang sangat besar.

Kedua: Sebagian penziarah Masjid Nabawi melakukan thawaf di kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka mengusap-usap lobang dan dindindnya, kadang mereka cium dengan bibir mereka atau mereka tempelkan pipi mereka di sana, semua itu adalah bid’ah yang munkar. Karena thawaf di selain Ka’bah adaha bid’ah yang diharamkan. Demikian pula halnya dengan mengusap, mencium dan menempelkan pipi, semua itu hanya disyariatkan di tempatnya,  yaitu di Ka’bah. Beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara seperti itu di tembok tersebut, justeru akan semakin menambah jauhnya dia dari Allah

Ketiga: Sebagian penziarah mengusap mihrab, mimbar serta dinding Majid Nabawi. Semua itu adalah bid’ah.

Keempat: Ini yang paling berat kemunkarannya, yaitu bahwa sebagian penziarah memohon dan berdoa kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar diangkat kesulitannya atau dipenuhi keinginannya. Ini merupakan syirik besar dan dapat mengeluarkan seseorang dari agama serta tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” SQ. Al-Jin: 18

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". SQ. Ghofir: 60.

Allah Ta’ala juga berfirman, “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu[1307] dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” SQ. Az-Zumar: 7

Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengingkari seseorang yang berkata kepadanya, “Atas kehendak Allah dan kehendak engkau.” Lalu  beliau berkata,


“Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai tandingan Allah; Hanya kehendak Allah semata.” (HR. Ibnu Majah, no. 2118)

Maka bagaimana halnya dengan orang yang memohon berdoa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar diangkat kesulitannya dan diberikan kebaikan. Padahal Allah berkata tentang diri beliau,

“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah.” SQ. Al-A’raf: 188

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak Kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan".SQ. Al-Jin: 21

Seorang mukmin hendaknya menggantungkan harapannya dan keinginannya kepada Sang Pencipta yang berkuasa mewujudkan apa yang dia inginkan dan menyelamatkannya dari apa yang dia takuti. Serta hendaknya dia mengetahi hak nabinya dalam bentuk keimanan, kecintaan dan mengikuti ajarannya lahir dan batin serta mohon kepada Allah agar diberikan keteguhan dalam hal tersebut serta tidak beribadah kepada Allah kecuali berdasarkan apa yang dia ajarkan.

Demikian ucapan Syekh Muhammad bin Utsaimin dalam kitab Akhtha Yaqau Fiiha AlHaj wal Mu’tamir

Wanita Keluar Dalam Rangka Rihlah Yang Berikhtilath Tanpa Mahram

Apakah seorang wanita tanpa mahram boleh bepergian untuk rihlah (rekreasi), yang membaur antara laki-laki dan perempuan dari pagi sampai sore?

Alhamdulillah

Ikhtilath (campur baur laki perempuan) adalah haram. 

Dan jika ikhtilath ini terjadi pada acara rihlah, yang cenderung meremehkan adab-adab Islam, berbincang yang berlebihan, atau yang lainnya, maka tingkat bahayanya lebih besar. 
 
Jadi, tidak boleh seorang wanita mengikuti acara rihlah semacam ini, meskipun ia bersama mahramnya misalnya. Selama ikhtilathnya masih ada. Apalagi kalau ia keluar tanpa mahram, maka akan lebih besar madharatnya.

Dan barang siapa yang rela, saudara perempuannya, anak dan istrinya mengikuti acara semacam ini, maka kecemburuannya tidak peka, lemah agamanya, kami memohon kepada Allah keselamatan.

Wallahu a’lam.
Soal jawab tentang Islam