Thursday, 9 October 2014

Muslim Social Network.


TurnToIslam Muslim Social Network
Muslim Social Network. 
Helping people learn and share Islam.


When a person spends his entire day with no concern but Allah alone, Allah will take care of all his needs and take care of all that is worrying him; He will empty his heart so that it will be filled only with love for Him.”
— Ibn Qayyim Al-Jawziyyah

Friday, 9 May 2014

Bangga dengan agama Islam, merasa tinggi berkomitmen dengannya adalah urusan yang dianjurkan dan termasuk amal sholeh.


 
Apakah disana ada kejelekan perasaan seseorang bangga terhadap agamanya atau kepada seseorang karena melakukan perkara baik. Karena kita tahu bahwa bangga dalam hati itu termasuk perkara yang jelek.

Alhamdulillah. Pertama,

Bangga dengan agama, merasa tinggi berkomitmen dengannya adalah urusan yang dianjurkan dan termasuk amal sholeh. Diantara sikap kebesaran, jihad dan kepahlawanan adalah kebanggaan Abu Sofyan pemimpin Quraisy dengan agama dan agama kaumnya, padahal belum masuk Islam.

Kemudian Nabi sallallahu’alaihi wa sallam membalas dengan kebanggaan, bahwa kebanggaan seorang muslim dengan agama dan ketauhidan kepada Rabb seluruh alam.


“Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shohehnya, 3039 dari hadits Al-Barro’ bin Azib radhiallahu’anhu bahwa Abu Sofyah bin Harb setelah selesai peperangan mengatakan dengan suara lantang, ‘Hubal lebih tinggi, Hubal lebih tinggi. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidakkah anda jawab untuknya?!

Mereka bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?
Nabi menjawab: ‘Katakanlah, Allah lebih tinggi dan lebih mulia!!
Abu Sofyan mengatakan, ‘Sesungguhnya kami mempunyai Uzza (kemuliaan) sementara anda tidak punya kemuliaan (Uzz).’
Nabi mengatakan, ‘Tidakkah kamu beri jawaban kepadanya?
Mereka bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?
Nabi menjawab: ‘Katakanlah, Allah kekasih kami, dan kamu semua tidak punya kekasih!!

Allah telah memberikan arahan kepada hambaNya, bahwa kejayaan sebenarnya dan kemulyaan sempurna didapatkan dengan ketaan kepada Allah ta’ala. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.” SQ. Fatir: 10.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yakni barangsiapa yang senang menjadi jaya di dunia dan akhirat, maka berkomitmenlah dengan ketaatan kepada Allah. Maka dia akan mendapatkan yang diinginkannya. Karena Allah pemilik dunia dan akhirat. Pemilik semua kejayaan. Sebagaimana firmanNya Ta’ala:

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” SQ. An-Nisaa’: 139.

Dan firman Ta’ala: “Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah.” SQ. Yunus: 65.

Dan firmanNya:
‘Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” SQ. Al-Munafiqun: 8.

Mujahid berkomentar: ‘Barangsiapa yang menginginkan kejayaan’ dengan beribadah kepada berhala, ‘Mak sesungguhnya semua kejayaan itu milik Allah.’

Qatadah berkomentar: ‘Barangsiapa yang menginginkan kejayaan, maka semua kejayaan itu milik Allah.’ Yakni maka berbanggalah dengan kataatan kepada Allah Azza Wajalla.

Kedua,
Sementara berbangga dengan seseorang, kalau dikarenakan agaman, kebaikan dan ketakwaannya, maka hal itu ada baik. Kalau selain itu, dikarenakan keturunan, jabatan, harta, pangkat, kedudukan diantara manusia, itu termasuk amalan jahiliyah yang dilarang.

“Diriwayatkan oleh Muslim, 1550 dari Abu Malik AL-Asy’ari radhiallahu’anhu sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Empat perkara dalam umatku termasuk masalah jahiliyah yang belum ditinggalkannya, bangga dengan keturunan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang dan meratap.

Diriwayatkan oleh Muslim juga, 5109 dari Iyad bin Himar Al-Mujasyi’i radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika dalam khutbahnya:

“Sesungguhnay Allah mewahyukan kepadaku agar tawadhu’ agar tidak ada seorangpun yang berbangga terhadap orang lain dan agar tidak mengharap seorangpun kepada yang lainnya.’

Al-Majd Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Allah melarang lewat lisan NabiNya tentang dua macam membangga-banggakan kepada makhluk yaitu bangga dan melampaui batas. Karena orang yang membanggakan, kalau dia banggakan dengan benar, maka itu termasuk kebanggaan. Tapi kalau tidak benar, maka itu termasuk melampaui batas. Maka tidak diperkenankan ini dan itu.’ selesai ‘Faidhul Kabir, 2/217.

Ketentuan dalam masalah ini adalah kalau kebanggaan dan kejayaan disebabkan agama, maka ia termasuk dari agama dan terpuji. Kalau selain dari itu, maka hal itu tercela.

Dimana kebanggaan dengan ketaatan dan ibadah, sesungguhnya senang karena mendapatkan taufik dan menyandarkan kepada orangnya. Hendaknya dia memuji kepada Allah karena selamat dari kesyirikan dan orangnya serta dari kemaksiatan dan jalan menuju kesana.

Sementara membanggakan seseorang kepada hamba Allah, dan merasa lebih tinggi dari orang lain dikarenakan dia melakukan ketaatan, maka ini termasuk kebanggaan yang terjelek dan termasuk gurur (bangga diri). Orangnya khawatir terjerumus dalam kehancuran dan bahaya ditolak amalannya.
Wallahu’alam.
Soal Jawab Tentang Islam

Monday, 28 April 2014

Adab dan etika bagi orang yang hafal Al Qur’an atau berinteraksi dengan Al Qur’an. Dan apa pula kewajiban bagi orang yang hafal Al Qur’an?



Bacaan yang menyejukkan :)

Adab dan etika bagi orang yang hafal Al Qur’an atau berinteraksi dengan Al Qur’an. Dan apa pula kewajiban bagi orang yang hafal Al Qur’an?

Alhamdulillah. Yang pertama :

Mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya merupakan pekerjaan yang paling mulya  dan paling utama;  sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Sebaik – baik kalian adalah orang yang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” Hadits riwayat  Bukhori (5027).


Dan dari Abu Umamah Al Bahily dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :  “Keutamaan seorang alim dibanding  Ahli ibadah adalah bagaikan keutamaanku  atas kalian semua, sesungguhnya Allah dan  para Malaikat serta penduduk langit dan bumi hingga semut dalam liangnya juga ikan pasti mereka mendoakan atas orang–orang yang mengajarkan kebaikan kepada sesamanya” Hadits riwayat At Turmudzi (2685) dan dishahihkan oleh Albani dalam “Shahih At Turmudzi”.

Dan tidak diragukan lagi bahwasannya mengajarkan Al Qur’an kepada sesama manusia merupakan mengajarkan kebaikan kepada orang lain, bahkan akan dibukakan  bagi mereka seagung–agungnya pintu-pintu kebaikan.

Yang kedua :

Mengajarkan Al Qur’an merupakan fardlu kifayah, maka jika ada seseorang yang mengajarkan Al Qur’an di negara anda ( didaerah anda ), maka anda tidak mendapatkan dosa (dengan tidak mengajarkan  Al Qur’an) akan tetapi anda kehilangan keutamaan yang besar.  Dan jika tidak ada seorangpun di negara anda yang mengajarkan Al Qur’an ; maka wajib bagi diri anda untuk mengajarkan Al Qur’an kepada mereka, dan jika anda tidak melakukannya maka anda telah berdosa dan hendaklah anda bertaubat.  Imam An Nawawi Rahimahullah berkata : “ Mengajar orang–orang yang mau belajar adalah fardlu kifayah; maka jika tidak menemukan orang yang layak mengajar kecuali hanya seorang, maka orang tersebut wajib dipaksa (untuk mengajar), dan apabila  didadapati diantara mereka komunitas yang layak untuk mengajar kepada sesamanya sedang mereka enggan untuk mengajar dan membagikan ilmunya; maka mereka semua berdosa, dan jika ada sebagian dari mereka berkenan untuk mengajar, maka gugurlah kewajiban bagi sebagian yang lain, dan jika seseorang diantara mereka diminta (untuk mengajar ) sedang ia menolak maka terdapat dua pilihan;  ia tidak berdosa akan tetapi ia mendapatkan murka jika penolakannya tidak disertai ‘Udzur yang bisa diterima”.  Diambil dari kitab : “At Tibyaan fie Aadaabi hamalatil Qur’an” (Halaman : 41-42 ).

Jika anda menginginkan mendapatkan peluang pahala dengan mengajar, maka janganlah anda hanya duduk–duduk di rumah sambil menunggu orang yang datang untuk belajar kepadamu, akan tetapi hendaklah anda pergi menghampiri mereka dan mengajak mereka supaya belajar dan menghafal serta memberikan motifasi kepada mereka  sambil menjelaskan keutamaan dan kemulyaan orang yang  belajar dan menghafal Al Qur’an karena yang demikian itu akan lebih mensucikan hatimu dan hati mereka, dan akan  membantu anda untuk tidak melupakan  Al Qur’an meskipun anda tidak mendapati  mereka yang belajar kepadamu melainkan hanya anak- anak belia, atau bisa juga anda mencari rumah–rumah Tahfidz atau halaqoh–halaqoh tahfidz yang ada di masjid–masjid lalu anda bergabung dengannya .

Yang ketiga :

Sudah sepatutnya bagi orang yang hafal Al Qur’an memiliki keistimewaan dan dan berbeda dengan yang lainnya, maka barangsiapa yang diberikan Taufiq oleh Allah dengan mendapatkan karunia ini hendaklah ia meningkatkan kapasitas  dan prestasi dirinya, karena jika tidak maka keberadaannya tidak jauh beda dengan orang–orang pada umumnya, dan kami akan mengemukakan secara global  beberapa adab yang patut untuk diteladani bagi orang yang hafal kitab Allah Subhanahu wata’ala, diantaranya :

o       Hendaklah ia mengikhlaskan niat  karena Allah dalam hafalannya, tilawahnya dan mengajarnya.

o       Hendaklah ia senantiasa berinteraksi dengan Al Qur’an senantiasa melakukan  muroja’ah  sehingga ia tidak lupa atau lupa beberapa darinya.

o       Hendaknya dengan hafalan yang ia miliki  tidak bertujuan untuk meraih dunia atau bagian darinya; yang berupa harta, kepemimpinan, kekuasaan, memposisikan dirinya diatas yang lain, ingin mendapatkan pujian dari orang lain atau ingin menarik perhatian orang lain dan lain sebagainya.

o       Senantiasa berusaha untuk memiliki halaqoh Al Qur’an, guna meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

o       Selalu berusaha mengajarkan Al Qur’an kepada sesama manusia, menyeru mereka untuk mempelajari dan menghafalkannya serta memberikan taujih kepada mereka terhadap akhlaq dan adab-adabnya.

o       Menyambut baik dan bersikap lembut terhadap orang yang datang untuk membaca Al Qur’an dihadapannya.

o       Mengamalkan Al Qur’an dan tidak menyalahi hukum–hukum dan syariat–syariatnya,bukan sebagai orang yang hafal hurufnya akan tetapi lalai akan batasan– batasannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda : “Dan AlQur’an iti akan menjadi Hujjah  bagimu atau Hujjah atasmu” Hadits riwayat Muslim (223).

Dari Ibnu Mas’ud dalam riwayat yang shahih ia berkata : “Adalah seseorang dari kami apabila mempelajari  sepuluh ayat dari Al Qur’an ia tidak melampauinya hingga ia mengerti makna kandungannya serta mengamalkannya”.  Dari tafsir At Thobary (80/1).

Abu Abdur Rahman As Sulami berkata : “ Mereka yang dahulu membacakan Al Qur’an kepada kami menceritakan : Sesungguhnya mereka  yang membaca Al Qur’an dari Nabi Shallallahu Alaihi wasallam apabila mereka mempelajari sepuluh ayat mereka tidak menambahkan dari sepuluh ayat tadi, hingga mereka mengerti kandungan isinya dan mengamalkannya, maka kami mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya semuanya secara bersama-sama”.  Tafsir At Thobary (80/1).

o       Hendaknya ia membedakan malam harinya dengan malam–malam hari orang–orang pada umumnya, dengan bangun malam untuk melaksanakan Shalat malam sekedar apa yang Allah telah memberikan kemudahan baginya; karena sesungguhnya para huffadz salafus shalih mereka adalah orang-orang yang terbiasa qiyamul lail dan bermunajat kepada Allah diwaktu sahur.

Kami memberikan nasihat kepada anda agar mendalami dan memahami dua kitab yang teramat mulya dan berharga tentang bab ini; yang pertama :“Akhlaqu Hamalatil Qur’an” Imam Al Aajiri Rahimahullah, dan yang kedua adalah : “AtTibyaan Fie Aadaabi  Hamalatil Qur’an” Imam An Nawawi Rahimahullah, maka bacalah keduanya dan semoga anda mengambil manfaat dari keduanya. Dan untuk mendapatkan faedah silahkan merujuk jawaban  soal nomor :  (127146).

Wallahu A’lam .
Soal Jawab Tentang Islam

Bolehkah Orang Ihram Menggunakan Sendal ?



Mohon penjelasannya, apakah orang yang sedang ihram boleh memakai sandal yang memiliki dua tali. Apakah ada dalil tentang diharamkannya sandal tertentu saat ihram?

Alhamdulillah.

Disunahkan agar orang laki berihram dengan memakai dua sandal. Karena terdapat riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Hendaklah kalian melakukan ihram dengan memakai sehelai kain dan selendang serta sepasang sandal.”

Lebih utama bagi orang yang ihram untuk ihram dengan memakai sepasang sandal agar terhindar dari duri, panas atau dingin. Namun jika dia ihram tanpa kedua sandal, tidak mengapa.

(Lihat Fatawa Islamiyah, 2/232).

Semua alas yang dikatakan sandal, maka dibolehkan dipakai oleh rang yang sedang ihram. Adanya jahitan padanya tidak diperhitungkan.

Wallahua’lam.
Syekh Muhamad bin Shaleh Al-Munajjid

Bagaimana Wanita Buta Dapat Mengetahui Bahwa Dirinya Telah Suci Dari Haidh



Alhamdulillah

Suci dari haidh dapat diketahui dengan salah satu dari dua tanda:


Pertama: Keluarnya cairan putih, yaitu air putih yang telah dikenal kaum wanita.

Keduanya: Kering total. Jika diletakkan kapas di tempat haidh, maka kapasnya bersih tidak ada bekas darah atau cairan kuning. Wanita buta hendaknya dibantu ibunya atau saudarinya, jika dilihat masih ada cairan putih atau kapasnya telah bersih, maka hendaknya dia diberitahu bahwa dia telah suci. 

Imam Malik telah meriwayatkan dari kitab Al-Muwatha, no. 130 dari Ummu Alqamah, dia berkata, "Dahulu, para wanita mengirimkan kepada Aisyah kapas dalam sebuah wadah, yang terdapat cairan kekuning-kuningan dari darah haidh. Mereka menanyakan tentang hukum shalat. Maka dia (Aisyah) berkata, "Jangan tergesa-gesa (shalat) sebelum engkau melihat cairan putih." Yang beliau maksud adalah suci dari haidh. Jika hal ini dilakukan oleh orang yang melihat, maka lebih utama lagi dilakukan oleh tuna netra.

Wallahua'lam.
Soal Jawab Tentang Islam

Sunday, 13 April 2014

Nikmat Lisan untuk Apa Kita Gunakan.



Allah adalah Al-Mu’thi, Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha memberikan berbagai nikmat kepada seluruh makhluk-Nya untuk menegakkan kewajiban dan ketaatan mereka kepada-Nya semata. Itulah salah satu bukti rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah l berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Adapun jenis dan jumlah nikmat-Nya, hanya Allah l yang Maha mengetahui. Allah l berfirman:

“Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya, lahir dan batin.” (Luqman: 20)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An-Nahl: 53)

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (Ibrahim: 34)

Dari sekian banyak kenikmatan yang Allah l limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, termasuk yang paling agung adalah nikmat lisan. Dengan lisannya, seorang hamba akan mampu berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang ada pada dirinya. Allah l berfirman:

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir.” (Al-Balad: 8-9)

Lisan yang kecil ini ibaratnya pedang bermata dua. Jika tidak memberi manfaat kepada pelakunya, maka dia justru akan membinasakan tuannya. Allah l berfirman:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Al-Infithar: 10-11)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali t berkata: “Sungguh, as-salafush shalih rahimahumullah telah sepakat bahwa malaikat yang ada di samping kanan seorang hamba adalah malaikat yang akan mencatat seluruh amal kebaikan. Sedangkan malaikat yang ada di samping kirinya adalah malaikat yang akan mencatat amalan kejelekan.” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1/336)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menerangkan makna ayat tersebut dalam Tafsir-nya: “Amalan kalian pasti akan dihisab. Allah l telah menugaskan sebagian malaikatnya yang mulia untuk mencatat ucapan dan perbuatan kalian. Mereka (para malaikat itu) mengetahui amalan kalian, baik amalan hati maupun anggota badan. Maka, sepantasnya kalian memuliakan dan menghormati mereka (dengan kebaikan dan ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya, pen.).”

Rasulullah n bersabda:

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah l, yang dia tidak ingat atau pikirkan, yang dengannya Allah l akan mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai Allah l yang dia tidak ingat atau pikirkan, maka dengan sebab itu, dia akan masuk ke dalam Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah z)

Sehingga, orang yang bijak adalah orang yang berpikir sebelum berbicara; apakah perkataan yang ingin dia ucapkan akan mendatangkan keridhaan Allah l atau kemurkaan-Nya? Akan mendatangkan keuntungan di akhirat ataukah kerugian?

Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa menjamin apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yakni lisan), dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni kemaluan), niscaya aku menjamin jannah (surga) baginya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’d z)

Rasulullah n juga bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah z)

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Makna hadits ini adalah apabila seorang hamba ingin berbicara, hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Apabila telah nampak jelas baginya bahwa tidak ada kerugian/madharat terhadap dirinya, hendaknya dia mengatakannya. Namun apabila nampak jelas baginya kerugian/madharat atau dia ragu-ragu, maka hendaknya dia diam.” (Syarh Shahih Muslim, 1/222)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Makna hadits tersebut ialah ketika seseorang ingin berbicara hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Jika yakin bahwa ucapannya tidak menimbulkan akibat yang jelek dan tidak menyeretnya pada perkara yang haram atau makruh, hendaknya dia berbicara. Namun apabila perkaranya adalah mubah, yang selamat adalah dia diam, supaya tidak terseret ke dalam perkara yang haram atau makruh.” (Fathul Bari, 13/149)

Perhatikan pula ucapan Al-Imam Ibnul Qayyim t ketika menceritakan bagaimana Iblis la’natullah ‘alaih mengomando bala tentaranya. “Iblis berkata kepada anak buahnya: ‘Berjaga-jagalah kalian pada pos lisan, karena pos tersebut adalah pos yang paling strategis. Doronglah lisannya untuk mengucapkan berbagai perkataan yang akan merugikannya dan tidak akan menguntungkannya. Halangilah hamba itu untuk membiasakan lisannya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti dzikir, istighfar, membaca Al-Qur’an, memberi nasihat, dan berbicara tentang ilmu. Niscaya kalian akan mendapatkan dua hasil besar di pos ini, tidak usah engkau hiraukan hasil manapun yang engkau dapatkan:

1. Dia berbicara dengan kebatilan. Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah saudara dan penolongmu.

2. Dia berdiam diri dari kebenaran. Orang yang tidak berbicara dengan kebenaran adalah saudaramu yang bisu, sebagaimana saudaramu yang pertama tadi, hanya saja dia pandai bicara. Barangkali saudaramu yang bisu ini lebih bermanfaat bagi kalian. Tidakkah kalian dengar ucapan seorang pemberi nasihat1: ‘Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang pandai bicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.’

Maka teruslah kalian berjaga di pos itu. Pos yang dia bisa berbicara dengan kebenaran atau menahan diri dari kebatilan. Hiasilah pembicaraan kebatilan kepadanya, dengan segala cara. Takut-takutilah dia untuk menyampaikan kebenaran, dengan segala cara.

Ketahuilah wahai anak-anakku, pos lisan inilah tempat aku berhasil membinasakan anak keturunan Adam dan menyeret mereka ke dalam Jahannam. Betapa banyak korban yang berhasil aku bunuh, aku tawan, atau aku lukai melalui pos ini.” (Ad-Da’u wad Dawa’, hal. 154-155)

Selanjutnya, Iblis berkata kepada anak buahnya: “Gunakanlah dua senjata yang tidak akan menyebabkan kalian kalah:

1. Lalai dan lengah. Jadikanlah hati mereka berlalu dari mengingat Allah l, lalai terhadap akhirat, dengan segala cara. Kalian tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dalam usaha kalian dibandingkan perkara itu. Karena, tatkala hati lalai dari mengingat Allah l maka kalian akan mampu menguasai dan menyesatkannya.

2. Syahwat. Hiasilah syahwat itu dalam hati mereka. Tampakkanlah indahnya syahwat di pelupuk mata mereka. Lalu seranglah mereka dengan dua senjata itu. Kalian tidak memiliki kesempatan yang lebih berharga untuk membinasakan mereka dibandingkan dua kesempatan itu.” (Ad-Da’u wad Dawa’, hal. 157)

Adapun perangkap-perangkap Iblis –yang menjebak banyak hamba Allah l– tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Di antaranya:



1. Ghibah

Rasulullah n menjelaskan makna ghibah dalam hadits Abu Hurairah z:


“Tahukah kalian apa ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau n bersabda: “Engkau menceritakan tentang saudaramu perkara yang dia benci.” Beliau ditanya: “Bagaimana kalau perkara yang aku katakan itu memang ada pada dirinya?” Beliau menjawab: “Kalau apa yang engkau katakan itu ada pada dirinya, sungguh engkau telah mengghibahinya. Apabila tidak ada padanya, sungguh engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah n telah mengharamkan harga diri seorang muslim dalam khutbah yang mulia dan di waktu yang mulia (yakni di hari Arafah), di tempat yang mulia pula (di Arafah). Dari Abu Bakrah z, nabi n bersabda:


“Maka sesungguhnya darah kalian haram, harta kalian haram, dan kehormatan kalian pun haram, sebagaimana haramnya (terhormatnya) hari kalian ini, di negeri kalian ini, dalam bulan kalian ini.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sehingga, merendahkan dan menjatuhkan harga diri/kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang benar adalah haram hukumnya. Barangsiapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya, niscaya Allah l akan membongkar aibnya dan mempermalukannya. Dari Ibnu Umar c, dia berkata:


“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum masuk ke dalam hatinya. Jangan kalian menyakiti kaum muslimin. Jangan kalian menjelek-jelekkan mereka dan jangan kalian mencari-cari kekurangan mereka. Karena barangsiapa mencari-cari kekurangan saudaranya yang muslim, niscaya Allah l akan mencari-cari kekurangannya. Barangsiapa yang Allah l cari-cari kekurangannya, niscaya Allah l akan membongkar aibnya dan mempemalukannya, walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ketahuilah, ghibah adalah salah satu dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya mendapat azab kubur apabila Allah l tidak mengampuninya. Dari Anas bin Malik z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:


Tatkala aku dimi’rajkan (dinaikkan ke langit) aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku tajam dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. maka aku bertanya: “Siapa mereka ini, wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang suka makan daging manusia (menggunjing/ghibah) dan menjatuhkan kehormatan mereka.” (HR. Abu Dawud, dan disebutkan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Ghibah itu haram hukumnya berdasarkan ijma’. Tidak ada pengecualian selain terhadap orang-orang yang jelas kemaslahatannya, seperti dalam al-jarh wat ta’dil (mencela/ memuji para perawi hadits), dalam nasihat sebagaimana nasihat Rasulullah n kepada Fathimah bintu Qais x.”

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ketahuilah bawa ghibah itu dibolehkan untuk tujuan syar’i, yang mana tidak mungkin tujuan tersebut tercapai kecuali dengan ghibah itu. Hal ini ada pada enam perkara.” (Riyadhush Shalihin)

Keenam hal tersebut terkumpul dalam ucapan seorang penyair:


Ghibah itu tidak tercela pada enam perkara

Orang yang dizalimi, yang mengenalkan, dan yang memperingatkan

Orang yang menampakkan kefasikan, peminta fatwa

Orang yang minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran


Faedah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Ketahuilah, ghibah itu akan bertambah kejelekannya dan dosanya sesuai dengan siapa yang disakiti dengan ghibah tersebut. Ghibah terhadap orang biasa tidak seperti ghibah terhadap orang yang berilmu. Tidak pula seperti ghibah terhadap pemimpin negara, pejabat, menteri, dan sejenisnya. Karena ghibah terhadap pejabat baik pejabat rendah maupun pejabat tinggi lebih besar dosanya daripada ghibah terhadap orang yang tidak memiliki jabatan kepemimpinan atau kedudukan. Hal itu disebabkan bila engkau ghibah terhadap orang biasa, engkau hanyalah berbuat jelek terhadap pribadinya. Namun bila engkau ghibah terhadap orang yang memiliki jabatan atau kedudukan, sungguh engkau telah berbuat jelek terhadap pribadi dan kedudukannya yang terkait dengan kepentingan kaum muslimin. Contohnya, apabila engkau berbuat ghibah terhadap salah seorang ulama, perbuatan ini berarti permusuhan dan kebencian terhadap pribadinya. Engkau juga telah berbuat kejelekan atau kejahatan yang besar terhadap ilmu syariat yang dibawanya. Seorang yang berilmu adalah pengemban syariat. Apabila engkau menggunjingnya maka akan jatuh kewibawaannya dalam pandangan umat. Apabila telah jatuh wibawanya, umat tidak akan mendengarkan ucapannya dan tidak mau merujuk kepadanya dalam urusan agama mereka. Akibatnya, ilmu yang dimiliki orang alim tersebut diragukan kebenarannya karena engkau menggunjingnya. Ini adalah kejahatan yang besar terhadap syariat.

Demikian juga para pemimpin/pejabat. Apabila engkau melakukan ghibah terhadap seorang pejabat, raja, presiden, atau yang semisalnya, dampak jeleknya bukan hanya menimpa pribadinya. Bahkan ghibah itu akan menjatuhkan pribadinya sekaligus merusak kewibawaan serta kedudukannya. Ini berarti engkau telah menyusupkan kebencian dan kedengkian ke dalam hati rakyat terhadap penguasanya. Apabila engkau berhasil menanamkan kebencian dan kedengkian di hati mereka terhadap penguasanya, sungguh engkau telah melakukan kejahatan yang besar terhadap mereka. Hal ini juga merupakan sebab munculnya berbagai kekacauan, perselisihan, dan perpecahan dalam kehidupan (masyarakat). Bila hari ini ghibah telah berhasil menyebarkan berbagai macam ucapan, boleh jadi besok hari akan menyebarkan tembakan-tembakan. Karena apabila hati telah benci dan dengki terhadap penguasanya, dia tidak akan mau tunduk dan patuh terhadap perintahnya. Apabila dia diperintahkan untuk melakukan suatu kebaikan, dia akan melihat sebaliknya. (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/46-47)



Cara Taubat dari Ghibah

Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib (hal. 131) menyebutkan sebuah hadits dari Nabi n bahwa kaffarah ghibah (penghapus dosanya) adalah dengan memohon ampunan kepada Allah l bagi orang yang digunjing, dengan mengucapkan:


“Ya Allah, ampunilah kami dan dia.”

Al-Baihaqi t menyebutkan hadits tersebut dalam Ad-Da’watul Kabir, dan mengatakan bahwa di dalam sanadnya ada kelemahan. Dalam masalah ini, ada dua pendapat di kalangan ulama, yang keduanya adalah riwayat dari Al-Imam Ahmad t: Apakah cukup untuk bertaubat dari ghibah itu dengan memohon ampunan bagi orang yang dighibahi? Ataukah harus disertai pemberitahuan kepada orang itu dan meminta untuk dimaafkan?

Pendapat yang benar, taubat dari ghibah tidak membutuhkan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi. Bahkan cukup dengan memohon ampunan baginya dan menyebut kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang dahulu dia mengghibahinya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dan selainnya.

Adapun sebagian ulama yang mengharuskan pemberitahuan kepada orang yang dighibahi sebagai bentuk taubatnya, mereka menganggap ghibah seperti hak-hak harta yang dizalimi. Padahal jelas perbedaannya. Dalam hak-hak yang terkait dengan harta, dengan dikembalikan hartanya atau yang setara dengannya, maka orang yang dizalimi akan mendapatkan manfaat darinya. Dia bisa mengambilnya atau menyedekahkannya. Yang seperti ini tidak mungkin terjadi pada ghibah. Yang akan terjadi pada orang yang dighibahi ketika dia diberitahu tentangnya, justru berlawanan dengan apa yang dimaksud Rasulullah n. Hal tersebut justru akan menyakiti dan menyalakan kemarahannya. Boleh jadi dia akan membangkitkan permusuhan yang tidak akan bisa dipadamkan. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya yang seperti ini tentu tidak akan diperbolehkan oleh Rasulullah n, apalagi memerintahkan dan mewajibkannya.



2. Namimah (adu domba)

Namimah adalah menukil (memindahkan) ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau persaudaraan di antara keduanya.

Allah l dan Rasul-Nya n sungguh telah mencela orang yang berbuat namimah dan melarang kita mendengarkan ucapannya. Allah l berfirman:

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (Al-Qalam: 10-12)

Rasulullah n bersabda:

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah).” (HR. Al-Bukhari dari Hudzaifah z)

Dalam sebuah riwayat dalam Shahih Muslim:

“Tidak akan masuk surga, ahli namimah.”

Al-Imam Ibnu Katsir t berkata: “Allah l berfirman ﯣ ﯤ , maknanya adalah orang yang berjalan di antara manusia untuk mengadu domba di antara mereka, dengan cara menukil ucapan dengan tujuan merusak hubungan dan persaudaraan di antara mereka. Ini adalah perbuatan yang membinasakan.”

Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Dalil-dalil yang mengandung ancaman seorang muslim tidak akan masuk surga bila melakukan dosa besar (seperti hadits ini, pen.) dipahami bahwa di dalamnya ada sesuatu yang mahdzuf (dibuang). Maksudnya adalah apabila Allah l ingin membalasnya, atau maknanya dia tidak akan masuk surga secara langsung, di mana dia akan diazab sesuai kadar dosanya (apabila Allah l berkehendak, pen.), namun akhirnya ia masuk surga. Sedangkan bila menghalalkannya, maka dia telah kafir karena telah mendustakan nash-nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sama saja apakah dia melakukan perbuatan itu ataupun tidak. (Nashihati lin Nisa’, hal. 39)

Namimah adalah dosa besar yang akan menyebabkan pelakunya diazab dalam kuburnya, apabila Allah l tidak mengampuninya. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas c yang masyhur. Disamping itu, namimah adalah perbuatan yang sangat tercela lagi berbahaya, yang akan merusak persahabatan dan persaudaraan. Bahkan namimah bisa merusak kecintaan antara sepasang suami istri, bapak dengan anaknya, atau seseorang dengan saudaranya, serta bisa merusak persaudaraan di antara kaum muslimin. Bahkan peperangan bisa terjadi karena namimah. Oleh karena itulah, Allah l dan Rasul-Nya n mengancam pelakunya tidak akan masuk surga.

Sebagian ulama, seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menggolongkan namimah ke dalam jenis sihir. Karena namimah bisa merusak persaudaraan dan kecintaan antara dua pihak, sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan sihir. Bahkan sebagian ulama yang lain mengatakan: “Sungguh ahli namimah itu bisa merusak dalam sekejap sebagaimana tukang sihir merusak dalam waktu satu bulan.”

Ummu Abdillah berkata: “Ketahuilah, orang yang melakukan namimah untuk kepentinganmu, maka dia akan melakukan namimah untuk membinasakanmu juga. Oleh karena itu, nasihatilah orang yang berbuat demikian dengan lemah lembut dan pengarahan yang baik berulang kali. Apabila dia tidak mau meninggalkannya maka peringatkanlah saudara-saudaramu darinya. Jauhilah dia, karena Allah l berfirman:

“Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengalihkan pada pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)



Faedah

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah berkata: “Jauhilah faktor-faktor yang akan menumbuhkan kebencian, permusuhan, perselisihan, dan perpecahan. Jauhilah perkara-perkara ini. Karena perkara ini telah tersebar pada masa ini melalui usaha orang-orang yang Allah l mengetahui keadaan dan tujuan mereka. Benar-benar tersebar dan meluas. Perkara-perkara ini telah mencabik-cabik para pemuda di negeri ini (Arab Saudi), baik di universitas Islam maupun tempat lainnya. Bahkan di seluruh dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena yang terjun di medan dakwah bukanlah orang-orang yang ahli, baik dari sisi ilmu maupun pemahamannya. Boleh jadi, musuh-musuh dakwah ini telah menyusupkan orang-orang yang akan mengacaukan dan memecah-belah di tengah-tengah salafiyyin. Ini bukanlah perkara yang mustahil, bahkan betul-betul telah terjadi. Maka bersemangatlah kalian untuk menjaga persaudaraan dan persatuan.” (Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah, hal. 39-40)



3. Kadzib (kedustaan)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Kadzib maknanya adalah seseorang memberitakan sesuatu yang menyelisihi kenyataan atau kebenaran. Ketahuilah bahwasanya kedustaan itu bermacam-macam.

a. Dusta atas nama Allah l dan Rasul-Nya n.

Ini adalah kedustaan yang paling besar (dosa dan bahayanya). Karena Allah l berfirman:

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?” (Al-An’am: 21)

Hal ini terbagi menjadi dua bagian:

- Seseorang menyatakan bahwa Allah l mengatakan demikian atau Rasulullah n mengatakan demikian, padahal Allah l atau Rasul-Nya n tidaklah mengatakan demikian itu.

- Dia menafsirkan Kalamullah atau Sunnah Rasul-Nya dengan tafsiran yang tidak seperti yang dimaukan Allah l atau Rasul-Nya n. Dia berarti telah membuat kedustaan atas nama Allah l atau Rasul-Nya. Seperti orang yang dengan sengaja menafsirkan ayat atau hadits dengan tafsiran tertentu yang sesuai dengan hawa nafsunya, atau demi mendapatkan keuntungan duniawi. Dan betapa banyak orang yang terjatuh dalam perkara ini.

b. Kedustaan yang terjadi di kalangan umat

Di antara bentuknya:

- Seseorang menampakkan diri sebagai orang yang baik, berilmu, bertakwa, dan beriman, padahal hakikatnya tidak demikian. Sebenarnya dia adalah orang yang jahil, zalim, dan kufur. Hal ini adalah kemunafikan, sebagaimana Allah l sebutkan tentang perbuatan orang-orang munafik:

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 8)

- Menisbatkan suatu ucapan, perbuatan atau pendapat, kepada seseorang, padahal orang tersebut tidak menyatakan atau melakukan hal tersebut.

- Menceritakan suatu perkara yang lucu agar orang-orang tertawa, padahal dia berdusta. Dari Mu’awiyah bin Haidah z, dia berkata: Aku mendengar Nabi n bersabda:


“Celaka orang yang menceritakan suatu perkara (yang dusta) untuk membuat suatu kaum tertawa dengannya. Celaka dia, kemudian celaka dia.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)



4. Qiila wa qala (katanya dan katanya)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr t berkata: “Maknanya, berbicara dengan ucapan-ucapan yang tidak ada faedahnya. Kebanyakannya ghibah, keributan, dan dusta. Barangsiapa yang banyak melakukannya pasti dia tidak akan selamat dari kebatilan, ghibah, dan kedustaan. Wallahu a’lam.” (At-Tamhid, 21/289)

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Maknanya adalah dia membicarakan setiap berita yang dia dengar. Dia menyatakan: ‘Telah dikatakan demikian’ dan ‘Fulan mengatakan demikian’, berupa perkara-perkara yang tidak dia ketahui kebenarannya dan tidak pula ia meyakininya.” (Riyadhush Shalihin)

Oleh karena itulah, Rasulullah n bersabda:


“Sesungguhnya Allah l meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Dia meridhai bagi kalian agar kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan agar kalian tidak berpecah-belah. Dan Dia membenci bagi kalian qiila wa qala, banyak bertanya (keras kepala), dan membuang-buang harta (tanpa ada faedahnya).” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Barangsiapa yang tidak mau mengendalikan lisannya (dengan kebenaran), niscaya dia akan menggunakan lisannya pada perkara-perkara yang jelek. Lisan ini akan menyeretnya pada kebinasaan. Kalau sebuah kalimat saja terkadang bisa mencelakakan pemiliknya, terlebih lagi bahaya dan dosa yang ditimbulkan oleh lisan yang tidak terbatas jumlah dan macamnya. Oleh karena itulah Rasulullah n bersabda:


“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah kalimat yang dia belum mendapatkan kejelasan padanya, maka dia tergelincir dengannya ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah zdan ini adalah lafadz Al-Imam Muslim)

Sedangkan anggota badan yang lainnya tunduk dan takut terhadap lisan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ahmad, Ath-Thayalisi, dan yang lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:


“Apabila anak Adam masuk waktu pagi hari, sesungguhnya seluruh anggota tubuhnya mencela lisan. Mereka mengatakan: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah! Karena kami tergantung denganmu. Apabila engkau lurus, niscaya kami pun akan lurus. Apabila engkau bengkok (menyimpang) maka kami pun akan menyimpang’.” (Tahdzirul Basyar min Ushul Asy-Syar, hal. 112)

Oleh karena itulah, hendaknya kita bertakwa kepada Allah l dengan lisan kita, sebagaimana perintah-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang lurus, niscaya Allah akan memperbagus amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia memperoleh kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Hanya dengan takwa, Allah l akan memperbaiki amalan kita dan mengampuni dosa kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

`(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abbas Muhammad Ihsan). 

asysyariah.com/nikmat-lisan-untuk-apa-kita-gunakan/