Sunday, 26 May 2013

Apa yang dapat membatalkan puasa?




oleh : Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin   


Tanya 1:

Apa yang dapat membatalkan puasa?

Jawab:

Pembatal puasa  yang disebutkan  di   dalam  al-Quran  ada  tiga: makan, minum dan jima (bersetubuh). 

Dalilnya firman Allah -ta'âla-:

"Maka  sekarang  campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah  ditetapkan Allah  untukmu, dan  makan  minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu  sampai (datang) malam.."   (QS. Al-Baqarah: 187)

Makan dan minum di situ yang halal maupun haram, bermanfaat maupun bermudarat,  sedikit maupun  banyak. Dari itulah merokok membatalkan puasa, jika bermudarat ia menjadi haram.

Sehingga ulama berkata: jika seseorang menelan satu tetes saja, puasanya batal. Setetes tidaklah memberi manfaat  pada tubuh, meskipun demikian termasuk pembatal puasa. Seandainya makan adonan yang tercampur dengan najis puasanya batal plus memudaratkan.

Pembatal ketiga  yang  disebut  dalam  al-Quran  jima  (bersetubuh).   Ini adalah pembatal yang paling kuat karena adanya kafarah (Kafarah artinya penebus. Karena menyangkut pelanggaran bersetubuh di siang Ramadhan maka penebusnya adalah membebaskan budak, jika tidak ada berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang miskin jika tidak sanggup puasa. Karena seringnya penggunaan istilah ini, untuk selanjutnya kata ‘kafarah tetap ditulis apa adanya tanpa diterjemahkan lagi. -pent)

yaitu:
  • membebaskan  budak,  
  • jika tidak  memiliki budak  dia harus  berpuasa  2 bulan berturut-turut,  
  • jika puasa tidak mampu, dia harus memberi makan 60  orang miskin.


Keempat:   mengeluarkan  mani   dengan  lazzah    (rasa    nikmat).    Jika seseorang mengeluarkannya dengan rasa nikmat batal puasanya. Tetapi tidak membayar kafarah,  karena kafarah  khusus  pada pembatal karena jima (bersetubuh).

Kelima: suntikkan  yang menggantikan makan dan minum atau  nutrisi. Adapun  suntikan yang bukan nutrisi tidaklah merusak puasa, sama saja apakah  disuntikkan  di   pembuluh  darah  maupun  otot,  karena  bukan termasuk kategori makan dan minum atau yang semakna.

Keenam: muntah dengan sengaja. Jika seseorang sengaja muntah maka puasanya  batal.  Jika  dia dikuasai rasa  muntah  maka puasanya  tidak batal.

Ketujuh: keluar darah haid dan nifas.  Jika darah haid keluar sesaat saja sebelum matahari tenggelam, puasanya batal. Jika darahnya keluar sesaat setelah matahari tenggelam, sah puasanya.

Kedelapan:  mengeluarkan  darah  dengan  cara  hijamah  (bekam). Sebagaimana sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:

"Batal puasa orang yang membekam dan yang dibekam." (5 HR. al-Bukhari no. 1937, Abu Dawud no. 2369, at-Turmudzi no. 779, Ibnu Majah no. 1749.)

Jika seseorang dibekam dan darahnya keluar, puasanya batal. Batal pula puasa  orang  yang membekam jika prosesnya  sama  dengan  cara  yang dikenal  di   masa  Rasulullah,  yaitu  pembekam  menyedot  darah menggunakan  botol  darah   (dengan   mulutnya).   Adapun   jika  dibekam melalui perantaraan  alat  yang tidak  terhubung  langsung  dengan pembekam, maka yang batal hanya puasa yang dibekam sedangkan pembekam tidak.

Jika  pembatal-pembatal di  atas  terjadi di  siang Ramadhan pada  orang yang berpuasa,  dia tetap  wajib imsak ( Imsak artinya menahan diri dari melakukan pembatal-pembatal puasa. Karena seringnya penggunaan kata ini, untuk selanjutnya kata ‘imsak’ tetap ditulis apa adanya tanpa diterjemahkan lagi. -pent)
 

dan ada 4  perkara menyangkut puasanya:

1-  Berdosa (kecuali pada haid dan nifas -pent).

2-  Puasanya batal .

3-  Tetap wajib memuasai hari itu.

4-  Wajib mengqodho

Qodho artinya Mengganti puasa yang ditinggalkan karena batal atau uzur. Karena seringnya penggunaan kata ini, untuk selanjutnya kata ‘Qodho’ tetap ditulis apa adanya tanpa diterjemahkan lagi. -pent


Jika batal karena jima (bersetubuh) ada perkara yang ke-5 yaitu kafarah. Akan   tetapi  perlu  diketahui  bahwa  pembatal  puasa  di   atas  tidaklah membatalkan kecuali memenuhi 3 syarat:

1-  ilmu  (mengetahui)        2-  zikir  (ingat)         3-  irôdah (dengan kehendak)

Jika orang yang puasa melakukan sesuatu dari pembatal di  atas dengan kejahilan (bodoh),  baik jahil akan waktu, atau jahil akan hukum; contoh jahil  dengan  waktu  seperti  seseorang  bangun  malam  dan  menyangka bahwa fajar belum terbit sehingga dia pun makan dan minum, tetapi setelahnya baru tahu ternyata fajar  telah terbit, yang seperti ini puasanya sah karena dia jahil dengan waktu.

Contoh jahil dengan hukum: seseorang berbekam dan dia tidak tahu kalau berbekam membatalkan puasa,  maka kita katakan  kepadanya puasamu sah. Dalilnya adalah firman Allah -ta'âla-:

"Ya  Rabb  kami, janganlah  Engkau hukum kami jika kami lupa  atau kami tersalah... (QS.al-Baqarah: 286)

Itu dari al-Quran, adapun dari hadits:

Hadits Asma'  Binti Abu  Bakar -radiallahu'anhu- yang diriwayatkan oleh al- Bukhari di dalam Sahihnya, dia berkata:

“Kami  berbuka pada hari berawan di  masa Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-  namun  kemudian matahari  nampak. Ternyata kami berbuka  ketika  hari  masih  siang. Kami tidak  tahu  dan  menyangka matahari  telah tenggelam. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- tidak memerintahkan mereka untuk mengqodho.

Jika qodho itu wajib tentu  Nabi telah memerintahkannya. Jika Nabi memerintahkannya  tentu  beritanya  telah  sampai  kepada  kita.  Namun wajib imsak hingga matahari tenggelam, dan puasanya sah.

Syarat kedua: zikir  (ingat), yang kebalikannya lupa. Jika orang yang puasa makan dan minum karena lupa, puasanya sah, sebagaimana firman  Allah
-ta'âla-:


"Ya  Rabb  kami, janganlah  Engkau hukum kami jika kami lupa  atau kami tersalah... (QS.al-Baqarah: 286)

Dan sabda  Nabi -shalallahu  alaihi  wasalam-  yang diriwayatkan  oleh Abu Hurairah -radiallahu'anhu- : "Siapa    yang   lupa    sedang   berpuasa   kemudian    makan   dan   minum, hendaknya  menyempurnakan  puasanya,   sesungguhnya  Allah-lah   yang telah memberinya makan dan minum." HR. Muslim no. 2772 , Ahmad 9737

Syarat  ketiga: irôdah  (kehendak).  Jika  orang yang berpuasa  melakukan hal-hal yang membatalkan puasa  tanpa kehendak dan pilihannya, maka puasanya sah. Jika dia berkumur-kumur, kemudian air tiba-tiba tertelan tanpa kehendaknya, puasanya sah.

Jika istri dipaksa oleh suaminya untuk berhubungan badan (di  siang Ramadhan)  dan  tidak mampu mencegahnya, maka puasa  istrinya sah. Karena   di    luar   kehendaknya.   Dalilnya  firman    Allah    -ta'âla-   tentang kekafiran karena dipaksa:


"Barangsiapa  yang kafir kepada  Allah  sesudah dia  beriman (dia  mendapat kemurkaan Allah),  kecuali orang yang dipaksa  kafir padahal  hatinya  tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).." (QS. An-Nahl: 106)

Jika  orang  yang  berpuasa  dipaksa  untuk   berbuka  atau   melakukan sesuatu yang membatalkan tanpa ada kehendak, puasanya sah.

islamhouse.com

No comments:

Post a Comment